POPAS 2023
Kelompok 9 XI IPA 3
• Maya Malinda
• Lintang Nur Maulidina
• Naura Zalfaa Zahirra
MUSEUM BANK INDONESIA
Museum yang letaknya berada di depan stasiun Beos Kota ini pertama kali didirikan tahun 1828 dimana dulunya merupakan tempat yang memiliki nama De Javasche Bank beroperasi.
Dulunya, Museum BI juga dipakai untuk rumah sakit umum dengan nama Binnen Hospital. Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi, Museum BI akhirnya dialih fungsikan menjadi De Javasche Bank yang kemudian dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang umum dikenal sebagai Bank Indonesia pada tahun 1853. Namun gedung tersebut hanya beroperasi sampai tahun 1962 karena Bank Indonesia yang berpindah tempat ke daerah Thamrin, Jakarta Pusat. Kemudian gedung bekas BI tersebut dibiarkan kosong.
Namun, demi menjaga nilai sejarah di dalamnya, akhirnya Museum BI tersebut dibuka kembali untuk umum pada 15 Desember 2006 dan dijadikan sebagai warisan cagar budaya. Selain itu, pendirian museum BI ini juga akan menunjang perkembangan kawasan Kota Tua sebagai destinasi wisata di Ibukota.
Sama halnya dengan museum pada umumnya, Museum BI Jakarta juga menyimpan ragam koleksi menarik. Koleksi Museum Bank Indonesia Jakarta memberikan beragam informasi mengenai perkembangan perekonomian Indonesia sejak zaman dulu, dari tahun ke tahun hingga masa kini.
Koleksi yang dipamerkan ada banyak, di mulai dari sejarah dan jenis mata uang di Indonesia sampai mancanegara, perkembangan logo Bank Indonesia dan kisah atau perjalanan krisis moneter pada tahun 1998. Uang bersejarah yang ditampilkan dan menjadi koleksi Museum Bank Indonesia ada banyak, antara lain Uang ORI (Oeang Republik Indonesia), uang kertas Bank Indonesia seri Dwikora, uang kertas Pemerintah Republik Indonesia Serikat dan masih banyak lagi. Seluruh koleksi tersebut disimpan di dalam ruang bernama numismatik yang memiliki pintu seberat 12 ton.
Selain dipamerkan berbagai mata uang, kami juga ditunjukan tumpukan emas batangan dan patung yang menceritakan seputar pembangunan dan aktivitas perbankan pada masa kolonial. Di bagian belakang koleksi musem Bank Indonesia terdapat berbagai macam souvernir yang di jual dimulai dari kartu pos, stiker, gantungan kunci, baju, Tote bag, tas dan barang lainnya.
MUSEUM FATAHILLAH
Museum Fatahillah bernama resmi Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat.
Museum Fatahillah dulunya merupakan gedung balai kota Batavia.
Sejarah
Pada 1620 didirikan pertama kali sebuah balai kota di Batavia di tepi timur Kali Besar. Bangunan ini bertahan selama enam tahun sebelum akhirnya dibongkar demi melawan serangan dari pasukan Sultan Agung pada 1626.
Untuk menggantikannya, pada 1627, dibangunlah kembali balai kota ini atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.
Tahun 1628, kondisi balai kota sudah memburuk. Akibat ketidakseimbangan tanah di Batavia serta beratnya bangunan membuat gedung ini perlahan-lahan turun dari permukaan tanah.
Lalu, diputuskan pada 1797, atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, gedung ini dibongkar dan dibangun ulang.
Peresmian balai kota ketiga pun dilaksanakan pada 10 Juli 1710.
Selama dua abad, bangunan ini dijadikan kantor administrasi Kota Batavia.
MUSEUM LUBANG BUAYA
Lubang Buaya merupakan sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang memiliki sejarah kelam bangsa Indonesia. Disini menjadi tempat pembuangan para pahlawan revolusi yang menjadi korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965, yang dikenal dengan gerakan PKI.
Lokasi ini menjadi saksi bisu sejarah kekejian Partai Komunis Indonesia (PKI) dimana 7 orang Jenderal Indonesia dan satu pengawal, diperlakukan kejam dan tidak berperikemanusiaan pada saat tragedi G30S PKI ini. Para jenazah yang juga dikenal sebagai pahlawan revolusi tersebut terdiri dari Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Letnan Jenderal Anumerta Suprapto, Letnan Jenderal Anumerta M.T Haryono, Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman, Letnan Jenderal Anumerta M.T Haryono, Mayor Jenderal Anumerta D.I Pandjaitan, Mayor Jenderal Anumerta Sutoyo Siswamiharjo dan Kapten C21 Anumerta Piere Tendean.
Di Museum Lubang Buaya terdapat banyak sekali hal yang dapat dieksplore karena lahan nya yang memiliki luas mencapai 14,6 hektare, terdapat beberapa bangunan di lahan ini diantaranya yaitu Monumen Pancasila Sakti, Sumur Maut, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, Dapur Umum, Museum Pengkhianatan PKI atau disebut juga Museum Lubang Buaya dan yang paling terkenal juga menjadi spot utamanya adalah sumur Lubang Buaya itu sendiri. Sumur Lubang Buaya merupakan sumur yang berdiameter 75 sentimeter dengan kedalaman sampai 12 meter dan menjadi sumur maut bagi para korban kebiadaban PKI ini. Keberadaan sumur ini terletak di depan Monumen Pancasila.
Bangunan bangunan yang disebutkan tadi dibangun dengan tujuan untuk mengingat jasa dan perjuangan para pahlawan revolusi yang rela berkorban demi mempertahankan ideologi negara. Tidak hanya terdiri dari banyak bangunan, di dalam Museum ini juga terdapat banyak sekali replika patung-patung yang menceritakan tentang sejarah G30SPKI, selain itu juga terdapat ruangan khusus yang menyimpan dan memajang foto, pakaian yang terdapat bercak darah, senjata, sepeda ontel dan barang lainnya yang dipakai oleh para tokoh pahlawan revolusi ini.